Jumat, 10 Mei 2013

PENGOBATAN PADA IBU ANEMIA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Anemia atau kurang darah sering dikaitkan dengan kondisi lemah, letih, dan lesu akibat kurangnya kandungan zat besi di dalam darah. Tak hanya pada orang dewasa, anak-anak bahkan balita pun bisa terkena anemia. Indonesia jumlah penderita anemia yang berasal dari kelompok anak usia sekolah (6–18 tahun) mencapai 65 juta jiwa. Bahkan, jika digabung dengan penderita anemia usia balita,remaja putri,ibu hamil, wanita usia subur, dan lansia, jumlah total mencapai 100 juta jiwa! ”Artinya, secara kasar bisa dikatakan bahwa satu di antara dua penduduk Indonesia menderita anemia. Dalam penelitian  juga terlihat angka kejadian anemia lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Jika anemia terjadi pada anak perempuan, dampaknya tidak hanya bagi anak tersebut melainkan juga generasi selanjutnya. Ini mengingat anak perempuan tersebut kelak akan mengandung dan melahirkan.

Anemia bisa disebabkan kondisi tubuh memerlukan zat besi dalam jumlah tinggi, seperti saat hamil, menyusui, masa pertumbuhan anak dan balita, serta masa pubertas atau ketika tubuh banyak kehilangan darah seperti saat menstruasi dan pada penderita wasir dan cacing tambang. Mereka yang menjalankan diet miskin zat besi atau pola makan yang kurang baik juga rentan anemia. Sebab lainnya adalah terjadinya gangguan penyerapan zat besi dalam tubuh.
Vitamin dan mineral juga sangat berperan penting untuk mengatasi anemia. Vitamin digunakan untuk pencegahan dan defisiensi spesifik vitamin tertentu atau ketika asupan makanan diketahui tidak memadai.
Sebenarnya, anemia dapat dicegah dengan mudah. Namun karena masyarakat terlalu menggampangkan, dan menganggap hal itu hanya lemah, letih, dan lesu saja. Padahal, dampak dari anemia ini sangat fatal bahkan menyebabkan kematian bagi ibu hamil





1.   2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian anemia pada Ibu hamil?
2.      Apa saja penyebab anemia pada Ibu hamil?
3.      Apa gejala anemia pada Ibu hamil?
4.      Apa dampak anemia pada Ibu hamil?
5.      Bagaimana cara pencegahan anemia pada Ibu hamil?
6.      Apa saja macam – macam vitamin?
7.      Apa saja macam – macam mineral?

13 Tujuan

1.  Untuk mengetahui definisi anemia pada Ibu hamil secara jelas.
2.  Untuk  mengetahui penyebab anemia pada Ibu hamil.
3.  Untuk  mengetahui gejala anemia pada Ibu hamil.
4.  Untuk  mengetahui dampak anemia pada Ibu hamil.
5. Untuk  mengetahui cara pencegahan anemia pada Ibu hamil.
6. Untuk mengetehaui  macam – macam vitamin.
7.  Untuk mengetahui macam – macam mineral



BAB II
PEMBAHASAN

2.1     DEFINISI ANEMIA

Anemia pada wanita tidak hamil didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin yang kurang dari 12 g/dl dan kurang dari 10 g/dl selama kehamilan atau masa nifas. Konsentrasi hemoglobin lebih rendah pada pertengahan kehamilan, pada awal kehamilan dan kembali menjelang aterm, kadar hemoglobin pada sebagian besar wanita sehat yang memiliki cadangan besi adalah 11g/dl atau lebih. Atas alasan tersebut, Centers for disease control (1990) mendefinisikan anemia sebagai kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua.
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga kebutuhan zat besi (Fe) untuk eritropoesis tidak cukup, yang ditandai dengan gambaran sel darah merah hipokrom-mikrositer, kadar besi serum (Serum Iron = SI) dan jenuh transferin menurun, kapasitas ikat besi total (Total Iron Binding Capacity/TIBC) meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta ditempat yang lain sangat kurang atau tidak ada sama sekali.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya anemia defisiensi besi, antara lain, kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya gangguan absorbsi diusus, perdarahan akut maupun kronis, dan meningkatnya kebutuhan zat besi seperti pada wanita hamil, masa pertumbuhan, dan masa penyembuhan dari penyakit.









Pembagian anemia dalam kehamilan :
1.        Anemia defisiensi besi
            Terjadi sekitar 62,3 % pada kehamilan. Merupakan anemia yang paling sering dijumpai pada kehamilan. Hal ini disebabkan oleh kurang masuknya unsure besi dan makanan, karena gangguan resorpsi, ganguan penggunaan atau karena terlampaui banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan. Keperluan besi bertambah dalam kehamilan terutama pada trimester terakhir. Keperluan zat besi untuk wanita tidak hamil 12 mg, wanita hamil 17 mg dan wanita menyusui 17 mg.

2.    Anemia megaloblastik
     Terjadi pada sekitar 29 % pada kehamilan. disebabkan oleh defisiensi asam folat, jarang sekali karena defisensi vitamin B12. Hal itu erat hubungannya dengan defisensi makanan.

3.        Anemia hipoplastik
     Terjadi pada sekitar 8 % kehamilan. Disebabkan oleh sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru. Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan belum diketahui dengan pasti. Biasanya anemia hipoplstik karena kehamilan, apabila wanita tersebut  telah selesai masa nifas akan sembuh dengan sendirinya. Dalam kehamilan berikutnya biasanya wanita mengalami anemia hipoplastik lagi.

4.        Anemia hemolitik
     Terjadi pada sekitar 0,7 % kehamilan. Disebabkan oleh pengancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat daripada pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila hamil maka biasanya anemia menjadi berat. Sebaliknya mungkin pula kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya  tidak menderita anemia.

Klasifikasi anemia yang lain adalah :
a.    Hb 11 gr% : Tidak anemi                                b.    Hb 9-10 gr% : Anemia ringan
c.    Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang                        d.   Hb < 7 gr% : Anemia berat.


2.2     PENYEBAB ANEMIA PADA KEHAMILAN


Penyebab anemia:

1.    Perdarahan hebat
2.    Kecelakaan
4.    Pembedahan
5.    Pecah pembuluh darah
6.    Kanker atau polip di saluran pencernaan.
7.    Tumor ginjal atau kandung kemih.
8.    Perdarahan menstruasi yang sangat banyak .
9.    Berkurangnya pembentukan sel darah merah
10. Kekurangan zat besi
11. Kekurangan vitamin B12
12. Kekurangan asam folat
13.  Kekurangan vitamin C
14.  Pembesaran limpa
15.  Kerusakan mekanik pada sel darah merah


Patofisiologi Anemia Pada Kehamilan
Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester ke II kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterem serta kembali normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron.

2.3     GEJALA KLINIS  ANEMIA
            Wintrobe mengemukakan bahwa manifestasi klinis dari anemia defisiensi besi sangat bervariasi, bisa hampir tanpa gejala, bisa juga gejala-gejala penyakit dasarnya yang menonjol, ataupun bisa ditemukan gejala anemia bersama-sama dengan gejala penyakit dasarnya. Gejala-gejala dapat berupa kepala pusing, berkunang- kunang, perubahan jaringan epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular, lesu, lemah, lelah, dan pembesaran kelenjar limpa. Pada umumnya sudah disepakati bahwa bila kadar hemoglobin < 7 gr/dl maka gejala-gejala dan tanda-tanda anemia akan jelas.
Kecukupan gizi yang dianjurkan bagi wanita hamil
Zat Gizi
Tidak Hamil
Hamil
Energi (Kal)
1900
± 285
Protein (g)
44
± 12
Vitamin A (RE)
500
± 200
Vitamin C (mg)
30
± 10
Asam folat (mcg)
150
± 50
Niasin (mg)
8,4
± 1,3
Riboflavin (mg)
1,0
± 0,2
Tiamin (mg)
0,9
± 0,2
Vitamin B12 (mcg)
1,0
± 0,3
Kalsium
600
± 400
Fosfor
450
± 200
Iodium
150
± 25
Besi
25
± 20
Zinc
15
± 5






2.4       DAMPAK ANEMIA PADA KEHAMILAN
            Anemia juga menyebabkan rendahnya kemampuan jasmani karena sel-sel tubuh tidak cukup mendapat pasokan oksigen. Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Di samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah.
Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus, partus  imatur/prematur), gangguan proses persalinan ( atonia, partus lama, perdarahan atonis), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stress kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian perinatal).

2.5  PENCEGAHAN ANEMIA

Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat diperoleh dengan cara mengonsumsi daging (terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi juga dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan. Perlu diperhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi.
Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian suplemen Fe dosis rendah 30 mg pada trimester ketiga ibu hamil non anemik (Hb lebih/=11g/dl), sedangkan untuk ibu hamil dengan anemia defisiensi besi dapat diberikan suplemen Fe sulfat 325 mg 60-65 mg, 1-2 kali sehari. Untuk yang disebabkan oleh defisiensi asam folat dapat diberikan asam folat 1 mg/hari atau untuk dosis pencegahan dapat diberikan 0,4 mg/hari. Dan bisa juga diberi vitamin B12 100-200 mcg/hari.



Tips Pencegahan Dan Perawatan Ibu Hamil Dengan Anemia
Kondisi anemia adalah suatu kondisi yang mudah dikendalikan dan diperbaiki bila penyebabnya adalah kekurangan nutrisi atau bahan baku pembentukan hemoglobin. Bila kondisi anemia yang terjadi pada ibu adalah akibat perdarahan, penyakit darah atau kelainan tubuh lainnya, maka kondisi anemia membutuhkan perhatian lebih lanjut dan advis dokter.
Berikut ini ada beberapa tips hal yang dapat ibu lakukan untuk menghindari, mengurangi dan menghadapi kondisi anemia.

1. Tentukan Apakah ibu mengalami Kondisi Anemia atau tidak
    Ibu dapat mengetahuinya dengan cara memperhatikan petunjuk penting dalam dirinya. Bila  ibu merasa lebih cepat lelah, letih, lesu, tidak bergairah dan mudah pusing atau pingsan, maka hal ini dapat menjadi tanda kondisi anemia. Untuk memastikannya ibu dapat melakukan pemeriksaan sederhana berikut ini:
·      Berdirilah di depan cermin dan tarik kelopak mata bagian bawah. Perhatikan tingkat warna kemerahan kelopak mata tersebut. Bila pucat atau merah muda maka kemungkinan anda mengalami anemia.
·      Bandingkan telapak tangan ibu dengan telapak tangan suami atau orang lain yang dianggap normal. Bila telapak tangan tampak lebih putih atau lebih pucat maka mungkin anda sedang dalam kondisi anemia.
·      Julurkan dan perhatikan warna lidah anda. Bila tepi lidah anda menjadi lebih pucat dari warna permukaan dalam pipi maka kondisi anemia mungkin telah terjadi.
·      Untuk memastikan kondisi anemia ini, ibu dapat memeriksakan darah untuk kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah sel darah merah. Bila hemoglobin kurang dari 10gr% maka sebaiknya ibu segera pergi ke dokter untuk memeriksakan diri.

2. Perbaikan diet/pola makan
Penyebab anemia terbanyak pada ibu hamil adalah diet yang buruk. Perbaikan pola makan dan kebiasaan makan yang sehat dan baik selama kehamilan akan membantu ibu untuk mendapatkan asupan nutrisi yang cukup sehingga dapat mencegah dan mengurani kondisi anemia.

3.  Konsumsilah bahan kaya protein, zat besi dan Asam folat
Bahan kaya protein dapat diperoleh dari hewan maupun tanaman. Daging, hati, dan telur adalah sumber protein yang baik bagi tubuh. Hati juga banyak mengandung zat besi, vitamin A dan berbagai mineral lainnya. Kacang-kacangan, gandum/beras yang masih ada kulit arinya, beras merah, dan sereal merupakan bahan tanaman yang kaya protein nabati dan kandungan asam folat atau vitamin B lainnya. Sayuran hijau, bayam, kangkung, jeruk dan berbagai buah-buahan kaya akan mineral baik zat besi maupun zat lain yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel darah merah dan hemoglobin.

4.  Batasi penggunaan antasida
Antasida atau obat maag yang berfungsi menetralkan asam lambung ini umumnya mengandung mineral, atau logam lain yang dapat menganggu penyerapan zat besi dalam tubuh. Oleh karena itu batasi penggunaannya dan gunakan sesuai aturan pemakaian.

5.  Ikuti saran dokter
Beberapa penyebab kondisi anemia adalah penyakit serius tertentu. Oleh karena itu jangan meremehkan kondisi anemia yang anda hadapi. Konsultasikan lebih lanjut kondisi yang anda hadapi dan ikutilah nasehat dokter anda.
Pedoman menu.

Berikut ini pedoman untuk menyusun menu bagi ibu hamil:
1. Makan dua kali lebih dari biasanya, bukan hanya dalam jumlah porsi, namun lebih ditekankan pada mutu zat-zat gizi yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi.
2. Makanan dapat diberikan 4 - 6 kali waktu makan sesuai dengan kemampuan ibu. Jangan memaksa untuk menghabiskan makanan yang tersaji jika merasa mual, pusing, dan ingin muntah.
3. Batasi konsumsi makanan berlemak tinggi dan yang merangsang seperti cabe, makanan bergas seperti nangka, nanas dan durian, serta yang beralkohol semacam tape.
4. Usahakan mengkonsumsi makanan dalam komposisi seimbang, dengan susunan yang meliputi 2 piring nasi @ 250 g, 90 g daging atau ikan, sebutir telur, 60 g kacang-kacangan, 3 porsi sayur @ 100 g, 2 porsi buah-buahan @ 100 g, segelas susu atau yoghurt, atau seiris keju sebagai ganti serta 1 sdm minyak atau lemak.
5. Berikan minum 1/2 jam sehabis makan. Perbanyak minum air putih, sari buah seperti air jeruk, air tomat, sari wortel, air rebusan kacang hijau sebagai pengganti cairan yang keluar, karena ibu hamil lebih banyak berkeringat dan sering buang air kecil karena kandung kemih yang terdesak oleh pertumbuhan janin. Penting untuk menghindari minuman berkafein seperti kopi, coklat, dan  soft drink (minuman ringan) pemicu hipertensi.
6. Hindari konsumsi bahan makanan olahan pabrik yang diberi pengawet dan pewarna yang dimasukkan ke dalam bahan pangan, karena dapat membahayakan kesehatan dan pertumbuhan janin, yang sering dihubungkan dengan cacat bawaaan dan kelainan bayi saat lahir. Waspadai tulisan pada kemasan sepertiamaranth, potassium nitrit, sodium nitrit, sodium nitrat, formalin, boraks, sianida, rodhamin B, dsb.
7. Hindari makanan berkalori tinggi dan banyak mengandung gula serta lemak namun rendah kandungan zat gizi, makanan siap saji, makanan kecil, coklat, karena akan mengakibatkan mual dan muntah.
8. Bagi ibu yang hamil muda, konsumsilah makanan dalam bentuk kering, porsi kecil dan frekuensi sering, misalnya biskuit marie dan jenis-jenis biskuit yang lain, karena biasanya mereka tidak berselera makan.
9.  Hindari konsumsi makanan laut dan daging yang pengolahannya tidak sempurna karena besar risikonya tercemar kuman dan bakteri yang membahayakan. Untuk menghindarinya, masaklah makanan sampai matang benar, dan cuci makanan untuk menjaga kebersihan, terutama buah dan sayuran sampai bersih sebelum dikonsumsi.
10. Tetap beraktivitas dan bergerak, misalnya dengan jalan santai di pagi hari.







Zat-zat gizi yang perlu mendapat perhatian dalam konsumsi ibu hamil adalah
sebagai berikut:
1. Sumber tenaga, digunakan untuk tumbuh kembang janin dan proses perubahan biologis yang terjadi dalam tubuh yang meliputi, pembentukan sel- sel baru, pemberian makanan dari ibu ke bayi melalui plasenta, serta pembentukan enzim dan hormon penunjang pertumbuhan janin. Kekurangan energi dalam asupan makanan yang dikonsumsi menyebabkan tidak tercapainya penambahan berat badan ideal dari ibu hamil yaitu sekitar 11 - 14 kg. Kekurangan itu akan diambil dari persediaan protein yang dipecah menjadi energi.
2. Protein, diperlukan sebagai pembentuk jaringan baru janin. Kekurangan asupan protein dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan janin, keguguran, bayi lahir dengan berat badan kurang, serta tidak optimalnya pertumbuhan jaringan tubuh dan jaringan pembentuk otak.
3.  Vitamin, dibutuhkan untuk memperlancar proses biologis yang berlangsung dalam tubuh ibu dan janin. Misalnya, vitamin A diperlukan untuk pertumbuhan, vitamin B1 dan B2 sebagai penghasil energi, vitamin B6 sebagai pengatur pemakaian protein tubuh, vitamin B12 membantu kelancaran pembentukan sel-sel darah merah. Vitamin C membantu penyerapan zat besi guna mencegah anemia, dan vitamin D untuk membantu penyerapan kalsium.

Sedangkan mineral yang dibutuhkan oleh Ibu hamil antara lain :
1. Kalsium, digunakan untuk menunjang pembentukan tulang dan gigi serta persendian janin. Jika ibu hamil kekurangan kalsium, maka kebutuhan kalsium akan diambilkan dari cadangan kalsium pada tulang ibu. Ini akan mengakibatkan tulang keropos atau osteoporosis. Untuk itu, si ibu perlu mengkonsumsi susu, telur, keju, kacang-kacangan, atau tablet kalsium yang dapat diperoleh saat periksa ke Puskesmas atau klinik.
2. Zat besi, erat berkaitan dengan anemia atau kekurangan sel darah merah sebagai adaptasi adanya perubahan fisiologis selama kehamilan, yang disebabkan oleh :
o     Meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin.
o     Kurangnya asupan zat besi pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
o     Adanya kecenderungan rendahnya cadangan zat besi pada wanita, sehingga tidak mampu menyuplai kebutuhan zat besi dan mengembalikan persediaan darah yang hilang akibat persalinan sebelumnya.
     Wanita hamil cenderung terkena anemia pada tiga bulan terakhir kehamilannya karena pada masa ini, janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir. Penanganannya, pertama, menggunakan terapi obat dengan memberikan tablet zat besi ferosulfat 30 - 60 mg (per hari, tergantung pada berat ringannya anemia. Kedua, terapi diet dengan meningkatkan konsumsi bahan makanan tinggi besi seperti susu, daging, dan sayuran hijau.

2.6  MACAM – MACAM VITAMIN
              A. Vitamin A (Retinol)
Defisiensi vitamin Adihubungkan dengan kerusakan mata dan kerentanan infeksi. Tetapi defisiensi jarang terjadi, bahkan pada kelainan absorbsi lemak.
Bentuk sediaan : Vitamin A generik (injeksi) 40.000 iu, 50.000 iu, 100.000,     300.000iu.
Kategori                : C
Signifikan             : Memilliki kemungkinan teratogenik pada manusia
Potensi                  : Kadang – kadang terjadi efek tetapi tidak rutin ( jarang terjadi   efek).
Keterangan          : Dosis tinggi ( kontraindikasi) Ibu hamil yang mengalami defisiensi A : teratogenik . Bila dipakai terus – menerus dengan dosis > 25.000 IU / hari dapat menyebabkan craniofacial, cardiac defect, limb reduction, urinary tract defect.
B. Vitamin B
Kelompok vitamin B:
·         Vitamin B1 (Tiamin)
·         Vitamin B2 (Riboflavin)
·         Vitamin B3 (Nikotinamid)
·         Vitamin B6 (Pridoksin)
·         Vitamin B12 ( Sianokobalamin)
Defisiensi vitamin B, selain defisiensi B12 jarang terjadi dan biasanya diobati dengan sediaan berisi tiamin (B1) , riboflavin (B2), dan nikotinamid.Defisiensi pridoksin (B6) juga jarang terjadi , tetapi dapat timbul selama terapi TBC (isoniazid)dan ditandai dengan neuritis perifer. Asam folat dan vitamin B12 digunakan untuk anemia megaloblastik.

C. Vitamin C (asam askorbat)
Terapi vitamin C esensial dalam scurvy , tetapi manifestasi defisiensi vitamin C tidak terlalu jelas pada penderita lanjut usia.
     Dosis                           : profilaktik 25 – 75 mg tiap hari , terapetik tidak kurang                                                       dari  250  mg tiap  hari dalam dosis terbagi.
Bentuk sediaan            : asam askorbat (generik) tablet 10 mg , 25 mg, 50 mg, 100 mg,  200 mg, 500 mg. Redoxon, Vicee, Vitacimin.

D. Vitamin  D
Defisiensi vitamin D karena malabsorbsi intestinal atau penyakit hati kronis biasanya memerlukan vitamin D dosis farmakologis, seperti tablet kalsiferol 1 mg (40.000 unit) tiap hari.
Bentuk sediaan: One alpha (leo) kapsul lunak, alfakalsidol 250 nanogram
                           Recaltrol (Roche) kalsitriol 250 nanogram
                           Unical-D (Universal) kolekalsiferol
Signifikan            : Memiliki kemungkinan yang kecil untuk menyebabkan    teratogenik pada manusia.
Potensi                : Jarang terjadi efek
            Keterangan        : Hiperkalsemia neonatal. Vitamin D untuk  hipoparatiroid tidak                                            ada efek pada janin.

E. Vitamin E  (tokoferols)
          Kebutuhan harian vitamin E sekitar 3-15 mg tiap hari. Ada sedikit  bukti bahwa suplemen oral vitamin E perlu pd orang dewasa, bahkan bila ada malabsorbsi lemak yang disebabkan kolestasis
Anak dengan kolestasis kongenital, kadar  vitamin E yang abnormal rendah berhubungan dengan  kelainan neuromuskuler, yang biasanya hanya menunjukkan respons terhadap pemberian parenteral vitamin E.  Vitamin E telah dicoba untuk beragam kondisi lain tetapi tidak ada bukti ilmiah tentang manfaatnya.  Dosis tinggi berhubungan dengan meningkatnya efek samping.

F. Vitamin K
                              Vitamin K perlu untuk produksi faktor pembeku darah dan berbagai protein yang diperlukan untuk kalsifikasi tulang yang normal , karena vitamin K larut lemak, penderita dengan malabsorbsi lemak, khususnya bila ada obstruksi bilier atau penyakit hati bisa menjadi defisien. Untuk  pemberian oral pencegahan defisiensi vitamin K pada sindrom malabsorbsi, sediaan larut air, harus digunakan menadiol natrium fosfat, dosis biasanya sekitar 10 mg tiap hari. Antikoagulan kumarin bekerja menghambat metabolisme vitamin K pada sel hati dan efeknya dapat diantagonis dengan memberikan vitamin K .


2.7   MACAM – MACAM MINERAL 
ü  Kalsium dan magnesium
ü  Fluoride
ü  seng
            Hanya diperlukan bila asupan kalsium tidak cukup. Kebutuhan diet pada ibu hamil dan anak-anak lebih besar. Pada osteoporosis suplemen harian 800 mg kalsium dapat menurunkan laju kehilangan kalsium tulang.
A.     Garam kalsium (C)
Indikasi                     : untuk defisiensi kalsium
Peringatan                : kerusakan ginjal, sarkoidosis
Efek samping            : gangguan gastrointestinal ringan, bradikardi, aritmia,     iritasi setelah injeksi iv
Dosis                           : peroral, tiap hari dalam dosis terbagi iv perlahan untuk hipokalsemia akut Ca glukonat 1-2 g
Sediaan oral               : Ca glukonat tablet 600 mg
                                      Ca laktat tabet 300 mg, 500 mg
                                      CDR eff. Tablet
                                       Kalk tablet 500 mg
                                       Ca sandoz
                                       Dumocalcin tablet 500 mg, 250 mg

B.     Magnesium (B)
           Merupakan unsur penting dalam banyak sistem enzim, khususnya yang terlibat dalam pembentukan energi. Garam Mg tidak terserap baik dalam saluran Cerna, hal ini menjelaskan kegunaan MgSO4 sebagai laksatif osmotik. Magnesium diekskresi sebagian besar lewat ginjal, dan hipermagnesia bisa menyebabkan kelemahan otot dan aritmia (jarang terjadi). Defisiensi tejadi pada pasien yg menjalani terapi diuretik dan aminoglikosida MgSO4 dianjurkan untuk pengobatan darurat aritmia serius. Dosis lazim: 8 mmol Mg selama 10-15 menit
Untuk infark miokard iv awal 8 mmol dalam 20 menit, dilanjutkan dengan infus iv 65-72 mmol.

C.     Flouride
Memberikan perlindungan terhadap karies gigi. Dianjurkan anak tidak perlu menggunakan Fluoride sampai usia 6 tahun
Natrium Fluorida :
Indikasi                     : pencegahan karies gigi
Efek samping            : kadang bercak putih pada gigi
Bentuk sediaan         : Fluor tablet 1 mg, Vinafluor tab 1 mg


D.    Seng
Terapi seng oral hanya diberikan bila ada bukti defisiensi yang jelas. Kondisi hipoproteinaemi menyebabkan penurunan palsu kadar plasma seng Defisiensi seng dapat timbul pada diet yang tidak memadai, malabsorbsi, berat badan turun
           Efek samping             : nyeri perut dan dispepsia
           Bentuk sediaan          : Surbex Z kaptab
                                   Zegase tablet Ss
                                   Zegavit Kaptab
                                   Zevit-C


2.8  PENGOBATAN ANEMIA
Pengobatan anemia biasanya dengan pemberian tambahan zat besi. Sebagian besar tablet zat besi mengandung ferosulfat, besi glukonat atau suatu polisakarida. Tablet besi akan diserap dengan maksimal jika diminum 30 menit sebelum makan. Biasanya cukup diberikan 1 tablet/hari, kadang diperlukan 2 tablet. Kemampuan usus untuk menyerap zat besi adalah terbatas, karena itu pemberian zat besi dalam dosis yang lebih besar adalah sia-sia dan kemungkinan akan menyebabkan gangguan pencernaan dan sembelit. Zat besi hampir selalu menyebabkan tinja menjadi berwarna hitam, dan ini adalah efek samping yang normal dan tidak berbahaya.



BAB III
PENUTUP


3.1     KESIMPULAN
Kejadian anemia pada ibu hamil harus selalu diwaspadai mengingat anemia dapat meningkatkan risiko kematian ibu, angka prematuritas, BBLR dan angka kematian bayi. Untuk mengenali kejadian anemia pada kehamilan, seorang ibu harus mengetahui gejala anemia pada ibu hamil, yaitu cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang,malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, napas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada kehamilan muda.












                                                                                                                                                   




Study Kasus ANEMIA
Cara Mengatasi Anemia di Kecamatan Abeli

            Kepercayaan tradisional sebagai cerminan dari nilai-nilai sosial budaya merupakan bentuk dari respon sosial budaya dan jika hal tersebut dikaitkan dengan suatu kondisi kehamilan seseorang, maka akan nampak jelas pengaruhnya dalam kehidupan keseharian ibu hamil tersebut.
            Sumber pengetahuan konsep anemia ini berlangsung secara turun temurun yang kebanyakan berasal dari mereka yang dianggap panutan, semisal orang tua atau dukun. Apa yang mereka sebut sebagai ”pengetahuan” itu sebenarnya bukan merupakan pengetahuan yang dipelajari, namun yang didapatkan dalam daur kehidupan sebagai pewarisan kebudayaan mereka. 
            Pewarisan kebudayaan dapat dilakukan melalui enkulturasi dan sosialisasi. Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses mempelajari dan menyesuaikan pikiran dan sikap individu dengan sistem nilai, norma, adat, dan peraturan hidup dalam kebudayaannya. Proses enkulturasi dimulai sejak dini, yaitu masa kanak-kanak, bermula dilingkungan keluarga, teman sepermainan, dan masyarakat luas (Herimanto dan winarno , 2008).
Khusus di Kecamatan Abeli pemeliharaan kesehatan dan cara-cara penanggulangan masalah kehamilan dalam hal ini gejala anemia dilakukan dengan melaksanakan anjuran dan menghindari pantangan-pantangan yang diyakini oleh masyarakat dan didasarkan atas sistem kepercayaan dapat mengatasi anemia yang berlaku secara turun-temurun sebagai pewarisan kebudayaan.
            Ibu hamil membutuhkan makanan yang bergizi, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk memenuhi kandungan nutrisi bagi janin yang dikandungnya. Selama kehamilan kebutuhan zat besi ibu hamil meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan, namun karena berbagai tahayul, kepercayaan mengenai kesehatan, dan suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan maka bisa saja dilakukan pengabaian terhadap hal-hal penting yang seharusnya dilakukan selama kehamilan. 
            Hal lain yang ditemukan adalah kehamilan oleh masyarakat dan kemudian ibu hamil sendiri, dianggap sebagai sebuah proses biasa dalam daur kehidupan, padahal, kehamilan adalah proses penting. Karena itulah, banyak diabaikan hal-hal penting untuk perawatan kehamilan yang seharusnya menjadi fokus perhatian. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Savitri (2003) yang menunjukkan selama masa kehamilan, wanita di Bogor Jabar jarang memeriksakan diri ke Puskesmas dengan alasan tidak ada keluhan, sangat erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat bahwa kehamilan adalah proses alamiah yang tidak perlu dirisaukan termasuk dalam hal ini anemia dan gejala-gejalanya.
1.        Di Kecamatan Abeli cara mengatasi gejala anemia atau gejala lain atau rasa sakit yang dirasakan yang berhubungan dengan kehamilan berdasarkan atas label dari gangguan kesehatan yang mereka rasakan, label gangguan kesehatan yang dimaksud adalah :
Ibu hamil merasa pusing-pusing, cara mengatasinya dengan banyak mengkonsumsi sayur-sayuran seperti bayam, terung, kacang panjang mengkonsumsi susu, air teh dan air kelapa muda.
2.        Ibu hamil merasa loyo, ingin tidur terus, malas jalan, malas makan cara mengatasinya dengan tidak mengikutkan rasa malas, berusaha melakukan berbagai pekerjaan untuk melawan rasa malas.
3.        Ibu hamil merasa sakit pinggang, menganggap hal yang wajar selama kehamilan dan cara mengatasinya dengan beristirahat.
            Cara mengatasi anemia yang dilakukan oleh ibu hamil berdasarkan gejala yang mereka rasakan yang paling baik adalah dengan memperbanyak mengkonsumsi sayuran hijau daun yang paling banyak mengandung zat besi (Fe). Zat besi dapat meningkatkan jumlah sel darah merah yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil.  Fenomena lain yang lebih menarik adalah ditemukan sebahagian ibu hamil yang mendapatkan suplemen zat besi (tablet Fe), tetapi mereka tidak memakannya dengan alasan utama dapat memperbesar anak dalam kandungan sehingga akan menyulitkan proses persalinan, sedangkan alasan lain karena memiliki bau yang tidak enak, dan menimbulkan perasaan tidak enak serta mual-mual sehingga ibu hamil menghentikan konsumsi tablet Fe. Alasan utama bahwa tablet Fe dapat menyebabkan bayi besar diperoleh melalui kepercayaan dari orang tua dan nenek-nenek mereka sehingga menimbulkan ketakutan terhadap akibat yang akan ditimbulkan. Padahal banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pemberian tablet besi pada ibu hamil dapat menaikkan kadar Hb ibu hamil.
            Penelitian Taslim dkk (2005) di Kab Takalar Sulsel menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kadar hemoglobin yang bermakna pada ibu hamil yang diberikan tablet besi. Penelitian lain yang dilakukan di Sibolga Sumut bahkan menunjukkan konsumsi tablet besi merupakan faktor yang paling dominan terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada ibu hamil (Simanjuntak, 2005), begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Sulasmi (2006) di Surabaya menunjukkan bahwa ada hubungan antara keteraturan konsumsi tablet Fe dengan kejadian anemia pada ibu hamil. 
            Prilaku ibu hamil yang mendapatkan suplemen tablet besi (Fe) tetapi tidak mengkonsumsinya ataupun mengkonsumsinya tetapi tidak teratur diduga memiliki kontribusi terhadap kejadian anemia di Kecamatan Abeli Kota Kendari. Hal ini didukung dengan pencapaian cakupan tablet Fe Bumil di wilayah kerja Puskesmas Abeli yang hanya mencakup 50 % dari target 82 % (Profil Puskesmas Abeli, 2008).




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar